BTC Kembali ke Area US$ 65.000, Catat Koreksi Mingguan Terparah Sejak 2022

Harga Bitcoin turun ke US$ 65.000 meski sempat bangkit di tengah tekanan pasar global

SINGAPURA, investor.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat ke kisaran US$ 65.000 pada perdagangan Jumat (6/2/2026). Pemulihan ini terjadi seiring meredanya tekanan jual pada saham teknologi global yang sebelumnya menekan berbagai aset berisiko, termasuk kripto.

Kendati demikian, Bitcoin masih mencatat performa mingguan terburuk sejak akhir 2022. Dalam beberapa bulan terakhir, pasar aset digital memang berada dalam fase sulit, terutama setelah kejatuhan tajam pada Oktober lalu yang memicu penurunan minat investor terhadap kripto.

Berdasarkan data perdagangan, Bitcoin naik sekitar 4,4% ke level US$ 65.894, setelah sebelumnya sempat terperosok hingga US$ 60.008. Namun secara akumulatif sepanjang pekan ini, BTC telah terkoreksi hampir 14%, menjadikannya penurunan mingguan terdalam dalam empat tahun terakhir.

Harga Bitcoin saat ini juga masih berada di titik terlemah sejak awal Oktober 2024, tepat sebelum reli besar yang dipicu kemenangan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat (AS) dengan agenda pro-kripto.

Kepala riset Pepperstone, Chris Weston, menilai tekanan yang terjadi merupakan akibat dari pelepasan posisi besar secara cepat. “Bitcoin terus melemah sejak Oktober 2025. Banyak posisi besar kini dibongkar dengan sangat agresif,” ujarnya kepada Reuters dari Melbourne, Jumat (6/2/2026).

Tekanan serupa juga dialami Ether (ETH). Aset kripto terbesar kedua ini tercatat naik 4% ke level US$ 1.921 setelah sempat menyentuh titik terendah 10 bulan di US$ 1.751. Sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD), Ether telah anjlok sekitar 35%.

Baca juga : Harga Bitcoin Terjun 28% Sebulan, Investor Diminta Waspada

Sementara itu, data CoinGecko menunjukkan kapitalisasi pasar kripto global telah menyusut sekitar US$ 2 triliun sejak puncaknya pada Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, lebih dari US$ 1 triliun hilang hanya dalam sebulan terakhir.

Tekanan Saham Teknologi dan Gelombang Likuidasi

Analis menilai sentimen negatif kripto erat kaitannya dengan pelemahan saham teknologi serta volatilitas di pasar logam mulia. Saat ini, pergerakan Bitcoin semakin selaras dengan indeks saham teknologi, khususnya yang berkaitan dengan tren kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Joshua Chu, Co-Chair Hong Kong Web3 Association, menegaskan bahwa penurunan Bitcoin ke area US$ 60.000 bukanlah sinyal berakhirnya kripto. “Ini adalah konsekuensi bagi pengelola dana yang memperlakukan Bitcoin sebagai aset tanpa risiko. Mereka yang terlalu agresif menggunakan leverage kini harus menanggung dampaknya,” jelasnya.

Tekanan pasar diperparah oleh arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di AS. Data Deutsche Bank mencatat, sepanjang Januari 2026 terjadi outflow lebih dari US$ 3 miliar, melanjutkan tren penarikan dana yang telah berlangsung sejak November 2026.

Korelasi Kripto dan Dinamika Ekonomi Global

Meningkatnya korelasi antara harga Bitcoin dan indeks saham teknologi seperti Nasdaq menandai fase baru kedewasaan kripto sebagai aset institusional. Berbeda dengan masa awal kemunculannya sebagai aset alternatif, kehadiran Exchange-Traded Fund (ETF) membuat Bitcoin kini semakin sensitif terhadap kebijakan suku bunga bank sentral serta kinerja keuangan perusahaan teknologi besar.

Koreksi tajam sejak akhir 2025 menjadi pengingat bahwa narasi Bitcoin sebagai “aset aman” masih belum sepenuhnya terbukti. Dalam kondisi likuiditas global yang mengetat dan strategi pengurangan risiko (de-risking) oleh investor, aset kripto kerap menjadi yang pertama dilepas karena tingkat volatilitasnya.

Penyusutan kapitalisasi pasar hingga US$ 2 triliun mencerminkan proses penyeimbangan ulang (rebalancing) setelah periode spekulasi tinggi pasca-pemilu AS. Ke depan, kondisi ini mendorong industri kripto untuk kembali menekankan nilai utilitas, fundamental proyek, serta manajemen risiko yang lebih disiplin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *