Presiden Prabowo Subianto menjelaskan bahwa frekuensi kunjungannya ke luar negeri bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia menegaskan bahwa tugas tersebut berkaitan langsung dengan perlindungan lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, meskipun para menteri telah bekerja menjalin kerja sama internasional, kehadiran presiden sering kali diperlukan untuk mempercepat proses negosiasi. Ia mencontohkan perjanjian dagang antara Indonesia dan Uni Eropa (CEPA) yang baru tercapai setelah melalui proses panjang selama satu dekade. Dengan keterlibatan langsung di tingkat kepala negara, berbagai kesepakatan strategis akhirnya dapat terealisasi, termasuk pembukaan akses perdagangan dengan tarif nol persen ke sejumlah negara seperti Kanada dan Uni Eropa.
Prabowo juga menyoroti bahwa dinamika global saat ini lebih didominasi oleh aspek geoekonomi, sehingga hubungan antarnegara menjadi faktor krusial. Jika relasi tidak terjaga dengan baik, suatu negara berpotensi menghadapi berbagai tekanan.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa sejak dahulu Indonesia menjadi perhatian dunia karena kekayaan sumber daya alamnya. Oleh karena itu, menjaga hubungan diplomatik yang luas dan positif menjadi langkah penting.
Ia menutup dengan menekankan bahwa sebagai anggota berbagai forum internasional seperti ASEAN, G20, dan OKI, Indonesia perlu aktif memenuhi undangan dan berpartisipasi dalam kerja sama global demi kepentingan nasional.