Masyarakat Iran semakin banyak memanfaatkan stablecoin USDT di tengah pelemahan tajam mata uang rial dan lonjakan inflasi. Situasi ini makin terasa setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 yang mengganggu infrastruktur digital nasional.
Gangguan konektivitas internet sempat melumpuhkan berbagai aktivitas daring di Iran. Namun demikian, aset kripto—terutama stablecoin—tetap dimanfaatkan sebagai sarana lindung nilai dan alat transaksi alternatif.
Baca juga: Menlu AS Beberkan Alasan Serangan ke Iran Dipicu Langkah Israel
Berdasarkan data perusahaan analitik blockchain TRM Labs dan Chainalysis, nilai transaksi kripto di Iran sepanjang 2025 diperkirakan berada di kisaran US$8 miliar hingga US$10 miliar. Angka ini menunjukkan semakin besarnya peran aset digital dalam sistem keuangan masyarakat.
USDT Menjadi Pengganti Dolar Digital
Stablecoin seperti USDT diminati karena nilainya yang dipatok ke dolar AS. Bagi warga Iran, instrumen ini menjadi alternatif untuk menjaga daya beli ketika rial terus melemah.
Pasangan perdagangan USDT–toman pun menjadi jalur utama konversi mata uang lokal ke kripto. Saat tekanan ekonomi meningkat dan permintaan terhadap USDT melonjak, Bank Sentral Iran sempat meminta sejumlah exchange menghentikan sementara perdagangan pasangan tersebut guna menahan laju depresiasi rial yang tercermin dari harga USDT.
Serangan Udara Ganggu Ekosistem Digital
Serangan pada 28 Februari turut menguji ketahanan ekosistem kripto Iran. Analisis TRM Labs mencatat bahwa konektivitas internet nasional sempat merosot hingga sekitar 99%.
Dalam beberapa hari setelah kejadian:
- Volume transaksi kripto anjlok sekitar 80%
- Beberapa exchange menghentikan sementara penarikan dana
- Sejumlah platform membatasi transaksi antara kripto dan rial
Meski terdampak signifikan, sistem kripto tidak sepenuhnya kolaps. TRM Labs menyebut kondisi tersebut sebagai bukti adanya tekanan berat, namun bukan kegagalan total sistem.
Dugaan Akumulasi USDT oleh Bank Sentral
Sebelumnya, perusahaan riset blockchain Elliptic melaporkan bahwa Bank Sentral Iran diduga menguasai sedikitnya US$507 juta dalam bentuk USDT. Langkah ini diyakini sebagai strategi untuk menghindari keterbatasan akses terhadap sistem perbankan global akibat sanksi internasional.
Di sisi lain, laporan Chainalysis memperkirakan sebagian aktivitas kripto di Iran berkaitan dengan jaringan yang terhubung dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
TRM Labs mengidentifikasi lebih dari 5.000 alamat dompet digital yang diduga terkait kelompok tersebut, dengan total aliran dana sekitar US$3 miliar sejak 2023.
Stablecoin Dalam Pengawasan Regulator Global
Meningkatnya penggunaan stablecoin di berbagai negara turut menjadi perhatian regulator internasional. Dalam laporannya, Financial Action Task Force (FATF) menyebut stablecoin berkontribusi sekitar 84% dari total volume transaksi kripto ilegal pada 2025.
Baca juga: Selat Hormuz Ditutup, Apakah Bitcoin Berisiko Tembus di Bawah US$60.000?
Laporan itu juga menyoroti dugaan pemanfaatan stablecoin oleh aktor dari Iran dalam upaya menghindari sanksi finansial. FATF pun mendorong negara-negara untuk memperketat pengawasan, termasuk memperkuat mekanisme pembekuan aset dan pemblokiran alamat dompet yang terindikasi terlibat aktivitas ilegal.
Kesimpulan
Lonjakan penggunaan USDT di Iran mencerminkan peran penting stablecoin sebagai instrumen lindung nilai ketika mata uang domestik melemah dan inflasi meningkat.
Walaupun sempat terdampak serangan udara dan gangguan internet, aktivitas kripto di Iran tetap berjalan. Fenomena ini memperlihatkan semakin besarnya peran stablecoin di negara-negara yang menghadapi tekanan ekonomi serta sanksi internasional.