Yen Capai Level Tertinggi dalam Dua Bulan, Pasar Siaga terhadap Potensi Intervensi

Yen Jepang menguat ke level tertinggi dalam dua bulan terhadap dolar AS

Jakarta, 26 Januari (ESCN) – Nilai tukar yen melonjak ke posisi tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada Senin, seiring meningkatnya dugaan bahwa otoritas Amerika Serikat dan Jepang dapat melakukan intervensi mata uang secara terkoordinasi. Spekulasi ini muncul setelah pernyataan dari perdana menteri Jepang serta pejabat utama diplomasi mata uang negara tersebut.

Pelaku pasar juga mulai mengurangi kepemilikan dolar menjelang rapat Federal Reserve, serta kemungkinan pengumuman dari Presiden Donald Trump terkait penunjukan ketua The Fed yang baru.

Yen sempat menguat hingga 1,5% ke level 153,30 per dolar AS—terkuat sejak awal November—sebelum terakhir diperdagangkan di kisaran 153,97.

Fokus investor tertuju pada Tokyo setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan pada Minggu bahwa pemerintah siap mengambil “langkah-langkah yang diperlukan” untuk menghadapi pergerakan pasar yang bersifat spekulatif.

SINYAL MENUJU INTERVENSI

Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada Reuters pada Jumat bahwa Federal Reserve New York telah menanyakan nilai tukar dolar/yen kepada para dealer, sebuah langkah yang kerap dipandang sebagai sinyal awal kemungkinan intervensi. Aksi cepat untuk menutup posisi jual yen pun mendorong mata uang Jepang itu naik lebih dari 3% dari titik terendahnya pada Jumat.

Dominic Bunning, Kepala Strategi Valas G10 di Nomura, mengatakan bahwa keterlibatan bersama antara Kementerian Keuangan Jepang dan Departemen Keuangan AS akan memberikan dampak yang jauh lebih kuat bagi pasar dibandingkan jika Jepang bertindak sendiri.

Menurutnya, koordinasi kedua pihak tersebut akan lebih efektif dalam memengaruhi perilaku pasar.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama enggan mengomentari langkah pemeriksaan nilai tukar tersebut. Sementara itu, diplomat mata uang Atsushi Mimura menegaskan bahwa pemerintah Jepang akan terus berkoordinasi erat dengan Amerika Serikat terkait kebijakan nilai tukar dan bertindak sesuai kebutuhan.

Amerika Serikat terakhir kali terlibat dalam intervensi yen secara terkoordinasi pada Maret 2011, pasca gempa dan tsunami Fukushima.

Tekanan terhadap yen juga berasal dari kekhawatiran atas besarnya utang pemerintah Jepang, yang nilainya melebihi dua kali ukuran perekonomian nasional. Lonjakan suku bunga global memicu kekhawatiran akan kemampuan Jepang membayar utangnya, meskipun Takaichi berjanji akan menurunkan pajak menjelang pemilu cepat pada 8 Februari.

Pada Jumat, yen mencatat penguatan harian terbesar terhadap dolar dalam hampir enam bulan, dengan lonjakan terlihat pada sesi perdagangan Asia dan kembali berlanjut di New York.

Namun, data pasar uang Bank of Japan pada Senin menunjukkan bahwa lonjakan tajam yen tersebut kemungkinan bukan akibat intervensi langsung pemerintah.

Baca juga : Harga Bitcoin 26 Januari 2026 Melemah ke Area US$87 Ribu

Sementara itu, indeks dolar AS—yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama—turun 0,1% ke level terendah dalam empat bulan di angka 97,14.

PELEMAHAN DOLAR ANGKAT EURO DAN POUND

Aksi jual dolar yang meluas turut mendorong euro dan pound sterling Inggris ke level tertinggi dalam empat bulan. Dolar Australia juga menguat ke posisi terkuatnya sejak September 2024.

Euro naik 0,2% ke $1,1854, pound sterling menguat 0,1% ke $1,3659, dan dolar Australia naik 0,4% ke $0,6922.

Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Capital Markets, menilai dolar sebenarnya sudah berada dalam kondisi rentan, dan penguatan yen menjadi pemicu utama aksi jual dolar secara luas.

Ia menambahkan bahwa pasar juga gelisah akibat berbagai isu di Amerika Serikat, termasuk gelombang protes domestik dan ketidakpastian terkait penunjukan ketua Federal Reserve yang baru.

Presiden Trump sebelumnya menyatakan akan segera mengumumkan pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Rick Rieder dari BlackRock saat ini menjadi kandidat terkuat menurut pasar taruhan Polymarket.

Federal Reserve dijadwalkan mengumumkan kebijakan suku bunga pada Rabu. Meski suku bunga diperkirakan tetap, pasar memperkirakan sinyal pelonggaran lebih lanjut dengan total pemangkasan sekitar 50 basis poin sepanjang tahun.

Di pasar komoditas, harga logam mulia mencetak rekor baru. Emas melampaui $5.100 per ons, sementara perak juga mencapai level tertinggi sepanjang masa.

David Forrester, ahli strategi senior Credit Agricole di Singapura, menilai pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan investor.

Menurutnya, potensi intervensi menandakan bahwa otoritas Jepang dan AS sama-sama menginginkan dolar yang lebih lemah. Ketidakpastian kebijakan Trump, termasuk ancaman tarif tinggi terhadap Kanada, semakin menekan daya tarik aset berbasis dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *