Jakarta, ESCN Media – Nvidia, salah satu produsen chip terbesar di dunia, memberi indikasi bahwa perusahaan tersebut kemungkinan tidak lagi melakukan investasi modal berskala besar pada startup kecerdasan buatan seperti OpenAI dan Anthropic. Pernyataan ini menandai perubahan signifikan dalam pola investasi industri AI global, terutama ketika kedua perusahaan tersebut bersiap memasuki pasar saham.
Baca juga: Riset: Banyak Model AI Lebih Memilih Bitcoin daripada Uang Fiat
Dalam konferensi Morgan Stanley Technology, Media and Telecom yang berlangsung di San Francisco pada Kamis (4/3/2026), CEO Nvidia, Jensen Huang, menyampaikan bahwa peluang Nvidia untuk menanamkan dana besar di OpenAI tidak lagi sebesar yang pernah dibicarakan sebelumnya.
Mengutip laporan dari Reuters, Huang menjelaskan bahwa kemungkinan Nvidia berinvestasi hingga 100 miliar dolar AS di OpenAI sangat kecil terjadi. Hal itu karena perusahaan pengembang teknologi ChatGPT tersebut diperkirakan akan melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada tahun ini.
Ia juga menyebutkan bahwa rencana investasi sebelumnya telah mengalami perubahan. Nvidia kini berencana menanamkan sekitar 30 miliar dolar AS di OpenAI. Menurut Huang, kesempatan seperti ini mungkin tidak akan terulang lagi untuk berinvestasi pada perusahaan AI dengan skala sebesar itu. Dengan asumsi kurs Rp16.880 per dolar AS, nilai investasi tersebut setara sekitar Rp506 triliun.
Selain OpenAI, Huang turut menyinggung investasi Nvidia pada perusahaan AI lainnya, Anthropic. Ia menyatakan bahwa suntikan dana sebesar 10 miliar dolar AS untuk Anthropic kemungkinan juga menjadi investasi besar terakhir dari Nvidia kepada startup AI.
Pernyataan ini muncul di tengah rencana kedua perusahaan tersebut untuk melantai di bursa. OpenAI diperkirakan akan memasuki pasar saham dengan valuasi yang sangat tinggi, bahkan mendekati 1 triliun dolar AS menurut laporan eksklusif Reuters tahun lalu. Sementara itu, Anthropic yang juga mempertimbangkan IPO pada 2026 sedang menghadapi sengketa dengan Pentagon terkait pemanfaatan teknologi AI dalam kontrak pertahanan.
Perkembangan tersebut turut mengubah dinamika hubungan antara produsen chip dan perusahaan pengembang layanan AI. Sebelumnya, Nvidia sempat menjadi perhatian global ketika menyampaikan rencana untuk menanamkan hingga 100 miliar dolar AS di OpenAI pada September 2025 sebagai bagian dari kerja sama strategis pengembangan infrastruktur AI. Namun, rencana tersebut tidak pernah diwujudkan dalam perjanjian final dan kini telah direvisi.
Di sisi lain, OpenAI baru saja memperoleh pendanaan besar dari sejumlah perusahaan teknologi raksasa. Dalam putaran investasi terbaru senilai 110 miliar dolar AS, Amazon memimpin dengan kontribusi 50 miliar dolar AS, diikuti oleh SoftBank dan Nvidia yang masing-masing menyuntikkan 30 miliar dolar AS. Pendanaan ini membuat valuasi OpenAI meningkat hingga sekitar 730 miliar dolar AS menjelang IPO.
Keputusan Nvidia tersebut juga memicu perdebatan di kalangan analis mengenai masa depan struktur pendanaan industri AI, khususnya terkait konsep circular financing. Skema ini merujuk pada kondisi ketika perusahaan penyedia infrastruktur seperti Nvidia menanamkan modal pada klien besar yang pada saat yang sama menjadi pembeli utama produk mereka. Kritik terhadap praktik ini menyoroti potensi konflik kepentingan serta dampaknya terhadap stabilitas ekosistem AI secara keseluruhan.
Baca juga: Kolaborasi dengan Nokia dan NVIDIA, Indosat Tampilkan Demo 5G AI Pertama di Asia Tenggara
Berakhirnya investasi besar Nvidia pada startup AI menandakan bahwa industri ini mulai memasuki fase yang lebih matang. Model pendanaan yang sebelumnya bergantung pada suntikan modal besar dari penyedia infrastruktur kini perlahan bergeser menuju skema yang lebih beragam dan semakin terhubung dengan pasar modal. Perubahan ini menjadi sinyal penting bagi pelaku industri, investor, serta regulator dalam menyusun strategi dan kebijakan bagi perkembangan ekosistem AI global di masa mendatang.