JAKARTA, ESCN – Meski sempat mengalami tekanan di awal tahun, Mirae Asset Sekuritas tetap optimistis pasar saham Indonesia akan mencatatkan kinerja positif sepanjang 2026.
Pada penutupan perdagangan Jumat (13/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 0,64% ke posisi 8.212,27. Secara year to date (ytd), indeks telah melemah sebesar 5,03% sejak awal tahun.
Baca juga: RS Green Holisticare, Klinik Bekam Holistik Modern Pertama di Indonesia
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa pihaknya masih mempertahankan target IHSG di level 10.500 hingga akhir 2026. Dalam skenario yang lebih konservatif, indeks diperkirakan berada di kisaran 8.000 pada akhir tahun.
Ia menilai fundamental pasar saham domestik tetap kuat. Koreksi signifikan yang terjadi belakangan ini dinilai sebagai penyesuaian yang wajar, mengingat sebelumnya IHSG sempat melesat cepat hingga menyentuh level 9.000-an. Saat ini, menurutnya, terdapat sejumlah saham yang berada di bawah nilai wajarnya namun memiliki prospek fundamental yang menarik.
Rully berharap IHSG dapat mencapai target tersebut setelah terdapat kejelasan dari berbagai sektor industri lainnya. Ia menegaskan bahwa perjalanan menuju level tersebut masih panjang.
Untuk sementara, pasar saham Indonesia masih berpotensi tertekan akibat arus keluar dana asing yang berlanjut serta sentimen global, termasuk perkembangan kebijakan suku bunga acuan The Fed dan fluktuasi harga komoditas. Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG dinilai masih banyak dipengaruhi faktor teknikal dan aksi spekulatif.
Menurutnya, pembalikan tren negatif baru dapat terjadi apabila terdapat arus masuk dana asing yang konsisten dalam beberapa waktu ke depan.
Dari sisi fundamental, IHSG dinilai memiliki peluang untuk mencatatkan kinerja lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Beberapa katalis utama tahun ini meliputi potensi peningkatan konsumsi dalam negeri, percepatan pelaksanaan program strategis pemerintah seperti MBG dan hilirisasi, serta peluang penurunan suku bunga global.
Meski demikian, arah pergerakan pasar saham sepanjang tahun tetap akan dipengaruhi oleh dinamika sentimen global, kebijakan pemerintah, serta stabilitas arus modal asing.