Ketegangan di Timur Tengah mendorong meningkatnya ketidakpastian global, sehingga Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Langkah ini diambil karena konflik geopolitik dinilai berpotensi memengaruhi inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi di kawasan zona euro.
Berdasarkan laporan Xinhua pada Jumat, 20 Maret 2026, suku bunga fasilitas deposito—instrumen utama dalam kebijakan moneter ECB—tetap berada di level 2 persen.
Baca juga: Jet Tempur F-35 AS Diduga Terkena Serangan Iran, Mendarat Darurat di Timur Tengah
Dalam pernyataannya, ECB menyebut bahwa konflik di Timur Tengah telah memperburuk ketidakpastian, dengan risiko meningkatnya inflasi sekaligus melemahnya pertumbuhan ekonomi.
Situasi ini dipicu oleh serangan besar yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Dampaknya terasa pada terganggunya distribusi global, lonjakan harga energi, serta tekanan terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Di Eropa, harga gas dan minyak sempat melonjak tajam. Harga gas acuan TTF Belanda sempat naik lebih dari 30 persen hingga mencapai sekitar 70 euro per megawatt-jam sebelum sedikit menurun. Secara keseluruhan, harga ini telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum konflik. Sementara itu, harga minyak mentah Brent juga naik hingga melampaui USD116 per barel.
ECB juga memperbarui proyeksinya, dengan menaikkan perkiraan inflasi dan menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi, terutama untuk tahun 2026. Inflasi di zona euro diperkirakan rata-rata mencapai 2,6 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi diprediksi hanya sekitar 0,9 persen.
Bank sentral tersebut memperingatkan bahwa tekanan harga bisa semakin besar jika kenaikan harga energi menyebar ke sektor lain atau jika gangguan rantai pasok global semakin meluas.
Meski demikian, ECB menilai bahwa mereka masih memiliki kapasitas untuk menghadapi ketidakpastian ini, didukung oleh ekspektasi inflasi jangka panjang yang relatif stabil serta kondisi ekonomi yang cukup tangguh.
Sementara itu, analis makro global dari ING Research, Carsten Brzeski, menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah telah mengubah arah kebijakan. Jika sebelumnya penurunan suku bunga dipertimbangkan, kini justru ada kemungkinan kebijakan tersebut ditunda atau bahkan berbalik arah, mengingat lonjakan harga minyak membuat ECB lebih waspada.