CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, melontarkan pandangan kritis terhadap strategi OpenAI dalam mengejar kecerdasan buatan tingkat superintelligence. Ia menilai bahwa ketergantungan pada large language models (LLM) seperti yang digunakan ChatGPT belum cukup untuk mencapai pemahaman kecerdasan yang mendalam dan menyeluruh.
Menurut Hassabis, LLM saat ini memang sangat unggul dalam memproses dan menghasilkan bahasa, namun model tersebut pada dasarnya bekerja berdasarkan pola statistik. Akibatnya, AI jenis ini belum memiliki kemampuan membangun world model — yakni representasi internal tentang bagaimana dunia nyata bekerja, termasuk hubungan sebab-akibat dan realitas fisik.
Ia menekankan bahwa tanpa world model yang kuat, sistem AI akan sulit melampaui kemampuan prediksi teks dan mencapai tingkat penalaran yang lebih kompleks. Hal ini dinilai menjadi penghambat utama dalam upaya menciptakan kecerdasan buatan yang benar-benar mampu berpikir, merencanakan, dan memahami konteks dunia secara utuh.
Pernyataan ini memicu perdebatan luas di kalangan peneliti dan pelaku industri AI, terutama karena OpenAI selama ini dikenal mengandalkan strategi peningkatan skala model dan data sebagai jalur utama menuju kecerdasan umum buatan. Kritik Hassabis sekaligus mencerminkan perbedaan pendekatan antara Google DeepMind dan OpenAI dalam merancang masa depan teknologi AI.
Google DeepMind sendiri diketahui tengah mengembangkan pendekatan yang mengombinasikan kekuatan model bahasa dengan sistem pembelajaran yang mampu melakukan simulasi dan pemahaman dunia secara lebih mendalam. Perbedaan strategi ini dinilai akan sangat menentukan arah perkembangan kecerdasan buatan global dalam beberapa tahun ke depan.
Sumber Berita:
Times of India – Google DeepMind CEO Demis Hassabis Criticises OpenAI’s Approach to Superintelligence