Jakarta, ESCN – Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, menyoroti kondisi global yang semakin mengkhawatirkan akibat tingginya ketidakpastian di berbagai sektor. Hal ini ia sampaikan dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Menurut Chairul, dunia saat ini berada dalam fase yang ia sebut sebagai the age of chaos. Istilah ini juga digunakan oleh majalah The Economist untuk menggambarkan situasi global yang sarat dengan gejolak dan ketidakstabilan. Ketidakpastian tersebut muncul dari berbagai sisi, mulai dari konflik geopolitik, tekanan ekonomi, disrupsi teknologi, hingga persoalan lingkungan.
Salah satu tantangan utama yang disoroti CT adalah persoalan geopolitik yang tak kunjung usai. Ia mencontohkan konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah seperti Israel–Palestina, Iran dan Hamas, hingga isu terbaru yang melibatkan Amerika Serikat dengan Greenland, setelah sebelumnya Venezuela.
Di luar geopolitik, CT juga menilai dunia kini menghadapi tantangan baru berupa geoekonomi. Fenomena ini tercermin dari kebijakan perang dagang yang dijalankan oleh Presiden AS, Donald Trump.
CT menjelaskan bahwa langkah Trump berawal dari kekhawatiran Amerika Serikat yang pertumbuhan ekonominya, khususnya di sektor perdagangan, tertinggal dari China. Ia memaparkan bahwa pada tahun 2000, nilai perdagangan AS mencapai sekitar US$ 2 triliun, sementara China baru US$ 400 miliar. Namun pada 2024, meskipun perdagangan AS meningkat, China justru melonjak tajam hingga US$ 6,2 triliun atau tumbuh sekitar 1.200%.
Jika kondisi ini dibiarkan, CT menilai China berpotensi mendominasi perekonomian global dalam waktu relatif singkat. Oleh sebab itu, Amerika Serikat mengambil langkah defensif melalui kebijakan perang dagang.
Lebih lanjut, CT menyebut Trump sebagai sosok pebisnis yang sangat pragmatis dalam mengambil kebijakan. Baginya, keputusan ekonomi didasarkan pada kepentingan bertahan hidup negara.
“Trump tidak terlalu mempertimbangkan aspek di luar konteks utama. Ekonomi baginya adalah soal survival. Dampaknya, kini kita melihat gejala dedolarisasi dan penurunan cadangan devisa di sejumlah negara,” jelas CT.