Jakarta, ESCN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak di rentang 7.500 hingga 10.000 pada tahun 2026. Sejumlah saham dari sektor konsumsi, komoditas, hingga emiten berkapitalisasi besar dinilai berpotensi menjadi motor penguatan indeks.
Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, optimistis IHSG mampu mencapai level 10.000, bahkan tidak menutup kemungkinan melampaui angka tersebut. Keyakinan ini didukung oleh prospek kinerja positif sejumlah emiten unggulan lintas sektor.
Hans menyebut saham-saham sektor konsumsi seperti CMRY, MYOR, MAPI, ICBP, dan AMRT masih menarik untuk dicermati. Menurutnya, emiten-emiten tersebut berpotensi menjadi penopang utama pergerakan indeks dalam waktu dekat.
Dari sektor logam dan pertambangan, Hans menilai saham ANTM, BRMS, MDKA, dan MBMA masih memiliki prospek cerah. Ia juga melihat peluang kebangkitan sektor batu bara melalui saham ITMG, AADI, dan PTBA, serta emiten tambang lainnya seperti ADMR dan ADRO.
Selain itu, saham-saham berkapitalisasi besar dinilai tetap atraktif untuk menjaga stabilitas IHSG. Emiten seperti BCA, Astra, dan Telkom diperkirakan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan indeks.
Hans menambahkan, karakter pasar saham Indonesia kini mulai berubah dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada aliran dana asing. Meski sempat terjadi aksi jual oleh investor asing, IHSG dinilai tetap mampu bertahan dan bergerak lebih mandiri.
Sementara itu, sektor properti dinilai masih bergerak terbatas dan baru berpotensi mengalami peningkatan pada 2027. Meski demikian, sektor ini tetap menarik bagi investor dengan orientasi jangka panjang.
Baca juga : Kenaikan Harga Nikel & Kebijakan Produksi Indonesia
Sebagai catatan, IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026) berhasil memangkas pelemahan dan ditutup turun 0,46% atau 41,17 poin ke posisi 8.951,01. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di kisaran 8.837,83 hingga 9.039,67, setelah sempat melemah lebih dari 1% pada sesi pertama.
Tercatat 521 saham melemah, 200 saham menguat, dan 237 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp31,87 triliun dengan volume 61 miliar saham dan frekuensi 3,23 juta transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp16.244 triliun.
Berdasarkan data Refinitiv, sektor teknologi menjadi penopang utama IHSG dengan kenaikan 1,38%. Sebaliknya, sebagian besar sektor berada di zona negatif, seperti bahan baku yang turun 2,19%, utilitas 1,95%, industri 1,72%, konsumer non-primer 1,37%, dan konsumer primer 0,84%.
Saham Mora Telematika Indonesia (MORA) turut membantu menahan pelemahan IHSG setelah melonjak 8,1% ke level 14.675 dan menyumbang 9,08 poin indeks. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) juga berkontribusi dengan kenaikan 1,05% ke level 3.850, memberikan tambahan 6,29 poin indeks.
Selain itu, saham BUMI yang sebelumnya terkoreksi dua hari berturut-turut, berhasil naik 3,45% ke level 360 dan menyumbang 3,12 poin terhadap IHSG.
Di sisi lain, sebagian besar emiten milik Prajogo Pangestu masuk dalam daftar saham dengan tekanan terbesar terhadap indeks. Amman Mineral International (AMMN) menjadi pemberat utama setelah turun 6,19% ke level 7.200, dengan kontribusi negatif sebesar 14,41 poin indeks.
Secara keseluruhan, saham-saham grup Prajogo Pangestu seperti PTRO, BRPT, BREN, TPIA, dan CUAN memberikan tekanan sebesar 33,39 poin terhadap IHSG.
Sumber berita
IHSG Bisa Tembus 10.000 Tahun 2026, Saham Ini Bakal Jadi Penopang